Produksi Audio Video

0
1243

Media Televisi/Video merupakan media audio visual (Motion), termasuk jenis media pandang-dengar. Media ini menjadi sangat ampuh menjangkau masyarakat luas manakala disiarkan melalui media televisi, masuk kerumah-rumah manakala diproduksi dalam bentuk kaset video/VCD yang hampir mematikan film layar lebar. Isi programnya bervariasi, mulai dari program hiburan, pendidikan dan pembelajaran. Dengan kemampuannya menampilkan unsur suara dan gambar, mudah memanfaatkannya, serta variatif program yang disajikan, menjadi media ini sangat memasyarakat.

Klasifikasi program media TV/Video terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. Pembelajaran. Program ini dibuat untuk mencapai tujuan pembelajaran/pengajaran, dengan harapan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri sasaran. Ciri dari program TV Pembelajaran adalah: 1) Merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran sebagai bahan pembelajaran, sehingga isi program bersumber dari kurikulum. Program tersebut biasanya dilengkapi dengan bahan penyerta sebagai petunjuk pemanfaatan. 2) Adanya evaluasi hasil belajar untuk memberi penilaian setelah sasaran menyaksikan program.
  2. Pendidikan. Program lebih mengarah pada informasi, apresiasi, sosial budaya dan ilmu pengetahuan. Evaluasi tidak dilakukan untuk menilai sasaran/penonton, tetapi untuk mengevaluasi program yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
  3. Hiburan. Program bersifat rekreatif, sentuhan artistik dan konstruk gramatikal lebih diutamakan. Beberapa program hiburan kadang-kadang memasukkan unsur pendidikan.

MENAGEMENT PRODUKSI FILM

  1. Produser: Pihak yang mendanai produksi
  2. Pimpinan Produksi: pihak yang melaksanakan produksi secara manajerial atau teknis
  3. Script Writter: orang yang ditunjuk untuk menulis naskah
  4. Director: orang yang bertanggung jawab secara teknis pada seluruh kerja produksi
  5. Asisten Direktor: orang yang bertanggung membantu director dilokasi shooting
  6. Director Photography: orang yang bertanggung jawab pada estetika pengambilan gambar
  7. Technical Director: orang yang bertanggung jawab terhadap peralatan teknis dan mengeplayan divisi kamera,lighting dan sound.
  8. Unit manager: orang yang bertanggung jawab pada fasilitas produksi, seperti perizinan lokasi, pengadaan alat dan lain-lain
  9. Art director: orang yang bertanggung jawab atas kesiapan non teknis, dan mengapalai divisi artistic, special effect.
  10. Editor: orang yang mengedit

S.O.P (Standar Operation Procedur)

v  Ide atau Gagasan: ide cerita yang nanti akan dikembangkan menjadi sebuah bentuk alur cerita

v  Sinopsis: ringkasan atau kerangka pikiran dari awal hingga akhir

v  Tema: tujuannya adalahh untuk menentukan topik dan menentukan kelompok sasaran

v  Riset: melakukan wawancara,pengamatan, dan pengalaman langsung, pencarian data, referensi, dll.

v  Treatment: uraian tokoh utama, garis besar plot, alur cerita, uranian adegan-adegan utama.

v  Scenario: dialog, keterangan detail adegan, waktu, lokasi, wardrobe, dan cast yang terlihat.

v  Survey lokasi: mencari likasi yang sesuai dengan scenario

v  Storyboard: rangkaian gambar yang menggambarkan adegan, dialog, waktu, ukurang shot, wardrobe, dan property yang dibutuhkan.

v  Shootlist: panduan kameramen dan DOP dalam melakukan pengambilan gambar berdasarkan storyboard dan scenario.

v  Breakdown shoting: panduan dilapangan tentang adegan yang akan dieksekusi berdasarkan waktu yang telah disepakati.

v  Shooting schedule: jadwal shooting untuk semua divisi yang terlihat.

v  Shooting: pelaksanaan semua perencanaan.

v  Logging atau pencatatan dan seleksi shot: menyeleksi shot-shot yang masuk dalam katagori baik, untuk dijadikan panduan editor.

v  Offline edit on script editing: menyusun gambar sesuai dengan scenario.

RUNDOWN PRODUKSI

Langkah-langkah produksi media TV/Video, yaitu:

  1. Pra produksi

v  Penulisan naskah (synopsis, treatment, skenario)

v  Menentukan (produser, penulis naskah, unit manager, director, editor, tecnical director dan art director

v  Menetapkan rundawn produksi

v  Proses casting, survey lokasi, story board, budgeting, pemilihan crew,dll

v  Cheeking equiptment, shooting schedule, shootlish set bocking

v  Pembentukan white book production

v  Bedah naskah all crew dan talent

v  Pengamatan dan latihan teknik dilokasi dan proses reading talent

  1. Produksi

v  Crew call

v  Briefing all team productions

v  Reading talent, set up locations

v  Rehearsal

v  Stenby blocking

v  Take

v  Shooting report

v  Check equiptment

  1. Pasca produksi

v  Editing offline

v  Editing mixing

v  Dubbing

v  Pemilihan musik, effek, soundtrack

v  Mastering

v  Lauching

Sedangkan kegiatan pokok dalam produksi tersebut, meliputi:

  1. Penulisan naskah
  2. Pengambilan gambar/suara (shooting)
  3. Editing

Seperti telah kita ketahui setiap elemen dalam pembuatan film, mempunyai dua unsur yang harus kita pahami yaitu teknis dan estetika. Ada beberapa komposisi gambar, yaitu:

1)      Gerakan Kamera dan lensa

  1. Panning : gerakan mendatar dari kiri ke kanan. Gerakan pan akan membuat penonton merasa sedang menanti sesuatu yang akan tanpak di layar, sehingga sebelum melakukan pan seorang kameramen harus menentukan titik aawal dan akhir dari sebuah shot.
  2. Tilting (tilt): gerakan kamera secara vertikal,dari bawah ke atas atau seballiknya.
  3. Zooming : gerakan lensa mendekati atau menjauh objek secara optis, yaitu dengan merubah lensa dari sudut pandang sempit ke sudut pandang lebar dan sebaliknya
  4. Rack focus: mengubah fokus lensa dari objek dilatar belakang ke objek latar depan, atau sebaliknya

2)      Framing atau Bidang Pandang

Adalah lebar sempitnya bidang pandang yang masuk kedalam frame (bingkai kamera)

  1. ELS (extreme long shot): shot yang sangat jauh dan menghasilkan bidang pandang yang luas. Objek utama tanpak lebih kecil
  2. LS (Long Shot): shot jauh dan menghasilkan pandangan yang lebih dekat
  3. MLS (Medium Long Shot): shot yang menghasilkan bidang pandang yang lebih dekat, objek manusia diambil dari mulut hingga kepala.
  4. MCU (Medium Close Up): objek di lihat dari bawah dada sampai atas kepala
  5. CU (Close Up): objek menjadi pusat perhatian dari gambar. Untuk manusia di tampilkan dari bahu sampai kepala
  6. BCU (Big Close Up) : shot yang hanya akan menampilkan bagian tertentu dari sebuah objek dan gambar tersebut memenuhi frame pada kamera
  7. Two Shot, three shot: adalah shot yang berisi gambar 2/3 objek manusia
  8. OSS ( over the shoulder shot): shot dimana objek menhadap kamera, dengan bingkai bahu dan kepala sabagian dari objek yang lain sebagai lawan bicara.
  9. ES (establising shot) pengambilan gambar dengan kamera yang tak bergerak.

3)      Kamera Angle: sudut dimana kamera mengambil gambar suatu objek. Dengan menempatkan kamera padaposisi yang tepat maka akan menghasilkan kesan tertentu dari sebuah gambar dan juga akan menghasilkan gambar yang baik.

  1. Normal angle: posisi ini kamera ditempatkan setinggi mata objek. Tidak ada kesan khusus pada posisi ini. Dan biasa digunakan pada shot-shot yang bersifat formal
  2. High angle: posisi kamera lebih tinggi dari mata manusia atau objek yang sedang di ambil gambarnya
  3. Low angle: posisi gambar berada di bawah ketinggian mata objek.
  4. Subjective angle: kamera diposisikan sebagai seorang tokoh yangtak kelihatan dilayar, dan memberi kesan sudut pandang dari tokoh tersebut.

Catatan singkat

  1. Shot: satuan adegan dalam film yang di rekam pada saat yang sama
  2. Take: satuan atau perekaman action
  3. Sinopsis: ringkasan cerita film, drama, tv show
  4. Skenario: naskah lengkap
  5. Screenplay: naskah lengkap
  6. A/V Script:naskah film atau televisi untuk berita, presentasi corporate atau produksi iklan yang menggunakan 2 kolom.
  7. Shooting Script: naskah film dimana  ditulis uraian lengkap dari setiap adegan yang mau diambil.
  8. Recce: pengintaian atau penyelidikan unuk mengumpulkan informasi.
  9. Story Board: papan cerita atau deretan gamabr-gamba sketsa dari adegan-adegan pokok dari suatu cerita
  10. Scene: adegan atau bagian dari suatu action dalam sebuah film atau iklan
  11. Sequence: babak atau bagian dari film yang terdiri dari beberapa scene yang menunjukkan suatu peristiwa.
  12. Stand by: aba-aba sutradara pada seluruh kru yang terlibat produksi untuk siap, shooting akan mulai.
  13. Rolling: aba-aba bahwa alat perekam (kamera atau VTR) sedan berjalan dalam mode recording
  14. Cue: isarat sutradara kepada pemain untuk mulai berakting
  15. Action: aba-aba sutradara agar permain mulai berakting
  16. Talent: pemain dalam adegan

Tips Merekam Video Dengan Sempurna 

  1. Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.
  1. Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan.
  2. Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.
  3. Rencanakan ambilan gambar (shot) Anda. Sebaiknya, jangan mulai merekam gambar sebelum Anda siap merekam gambar dengan sempurna. Dan yang lebih penting subyek rekaman Anda siap untuk direkam (komposisi, focus, pecahayaan, dsb. ).
  4. Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.
  5. Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).
  6. Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing).
  7. Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)Jaga durasi setiap shot. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung actionyang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum actionberlangsung. Berikan durasi yang sama setelah action berlangsung.
  8. Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu shot akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik.
  9. Pada saat merekam, selalu antisipasi pergerakan subyek atau apa yang akan dilakukannya.

Sumber buku:

  1. Modul Workshop (Produksi Film JCM 2009)
  2. Baksin, Askurifai. 2009. Jurnalistik Televisi Teori dan Praktek, Bandung: Simbiosa Rekatama media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here